SAWIT AMBYAR
![]() |
| Sumber gambar : https://scx2.b-cdn.net/ |
Beberapa waktu lalu, sebab terlalu lelah di rumah saja yang tak tau kapan akan berakhir, saya memutuskan untuk berkunjung ke kebun, kebun sawit milik famili yang tak jauh dari rumah,hanya 15 menit saja perjalanan menggunakan sepeda motor, disana tinggal pakde (kakak dari pihak ibu) saya yang menjaga kabun sekaligus beternak sapi dan ayam dengan skala rumahan (peternakan rakyat).
Saya tidak tau persis berapa hektar luas kebun sawit itu,
yang jelas sawit-sawit itu ditanam di areal persawahan yang dulu sempat
produktif, irigasi air juga masih sangat baik. Berbisnis sawit dianggap lebih
menjanjikan sehingga masyarakat yang punya lahan berbondong-bondong menanam
sawit, alih fungsi lahan semakin marak. Jadi tak heran Indonesia merupakan
salah satu negara eksportir sawit terbesar di dunia sekaligus komoditas yang
menyumbang devisa terbesar untuk negara.
Tapi kini lain cerita, pohon sawit itu saya lihat tak begitu
produktif, sudah banyak pohon yang miring karena memang ditanam di aeral
persawahan, pun harga sawit saat ini makin ambyar di tengah pandemi COVID-19.
Memang bisnis sawit begitu menguntungkan, selain mememberi
sumbangan devisa negara yang besar, penyerapan tenaga kerja dari industri
kelapa sawit juga cukup besar, menurut data Direktorat Jendral Perkebunan
Kementrian Pertanianpada tahun 2019, 59 persen perkebunan kelapa sawit dikelola
perusahaan dan 41 persen dimiliki masyarakat. Perkebunan kelapa sawit yang
dikelola masyarakat telah menyediakan 2,3 juta lapangan pekerjaan.
Disisi lain perkebunan sawit juga berdampak buruk, salah
satu penyebab penyebab kebakaran hutan dan lahan adalah pembukaan lahan perkebunan
baru atau deforestasi, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB)
mengungkapkan kartahula tahun 2019 membakar 857 ribu hektar, terparah dalam
tiga tahun terakhir, belum lagi permaslahan yang lain seperti konflik agraria,
lingkungan, dan mengancam wilayah adat.
Direktorat jendral perkebunan kementrian pertanian juga
mengungkapkan, pada tahun 2019 lahan
perkebunan sawit seluas 16,38 juta hektar yang setiap tahunnya meningkat,
sedangkan lahan persawahan hanya 7,4 hektar, sangat miris untuk negara yang
sebagian besar rakyatnya yang mengkonsumsi nasi sebagai bahan pokoknya.
Seharusnya pemerintah juga memberikan perhatian lebih kepada
para petani agar mereka sejahtera, karena mereka yang menanam sayur dan menam
padi, untuk ketahanan pangan bisa saja kita terus menerus impor beras, tapi
tidak untuk kedaulatan pangan.
Sawit memang memberikan sumbangan devisa untuk negara yang
cukup besar, juga menyerap tenaga kerja, tapi kita tak bisa makan biji sawit
untuk kebutuhan pokok. (Ahmad Nuril)

Comments
Post a Comment