KITA BISA- Solusi Aleternatif Pendidikan Kedua Saat Corona
Ada wacana skema belajar dari rumah akan diperpanjang. Saya tak sepenuhnya yakin semua anak didik benar benar belajar di rumah, atas dasar apa? Saya sudah tanya ke beberapa pelajar apakah mereka benar benar belajar di rumah sesuai arahan dewan guru dan pemerintah, nyatanya tidak.
Walapun sejatinya belajar tak mesti di dalam kelas, dengan seperangkat meja, bangku dan papan tulis seperti zaman moderen saat ini.
Walapun sejatinya belajar tak mesti di dalam kelas, dengan seperangkat meja, bangku dan papan tulis seperti zaman moderen saat ini.
Belum lagi sebagian besar wilayah Indonesia adalah pedesaan, jaringan internet mungkin tak sebaik di kota, dan apakah mereka punya gawai canggih seperti anak di kota lainnya? Mungkin sebagian kecil ada.
Artinya, orang tua didik harus lebih ekstra dalam membimbing anak anaknya di rumah agar tak ketinggalan pembelajaran. Tapi tunggu, tak semua orang tua murid punya waktu karena harus bertahan hidup mencari nafkah yang kian sulit di tengah pandemi. Belum lagi (maaf) keterbatasan kemampuan orang tua didik untuk menyanpaikan materi pembelajaran.
Bila skema belajar di rumah benar benar akan diperpanjang maka saya rasa peran orang tua dan komunitas masyarakat sejenis Taman Belajar Masarakat yang bergerak secala lokal sangat dibutuhkan, atau surau surau ang bergerak secara kecil dan terbatas perlu dihidupkan kembali walau hanya belajar mengaji. Atau minimal bergerak dalam lingkup yang lebih kecil, RT, dan benar benar dipastikan warga setempat aman dari COVID-19, artinya wilayah tersebut berada dalam zona hijau.
Persoalannya adalah seberapa banyak Taman Belajar/Baca Masyarakat (TBM) di wilayah kita dan siapa yang menjadi motor penggerak. Jawabanya adalah kaum muda seperti saya, yang baru saja dirumahkan dari tempat kerja. Atau mahasiwa mahasiswa yang memilih untuk pulang kampung, atau siapapun yang tergerak hatinya untuk mengambil peran.
Suatu saat saya ingin melihat halaman halam rumah saya dipenuhi anak anak, mereka tertawa riang gembira, di pojok yang lain ada yang membaca buku, dan di pojok yang lain lagi ada yang mendengarkan dongeng. Budaya ilmu yang dimulai dari komunitas terkecil, yaitu rumah.
Saya tunggu dan saya mencari kaum muda di lingkungan terdekat saya, untuk kita bergerak bersama, menjalankan amanat para pendiri bangsa yang tertuang dalam UUD 45 yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa.
Salam hangat saya,
Ahmad Nuril
Ahmad Nuril
Comments
Post a Comment