Nyala Sejarah : Sebuah Refleksi Sejarah Kita
![]() |
| sumber gambar :www.wowshack.com |
Pelajaran
sejarah, bagi siswa yang mengeyam pendidikan sekolah umum di Indonesia sudah tidak
asing dengan mata pelajaran ini. Ya, identik dengan mata pelajaran yang
membosankan dan membuat mata kantuk. Terlebih billa cara guru menyampaikan
materi yang membosankan, monoton.
Dulu saya
menganggap belajar sejarah hanya untuk mengingat-ingat dan mengenang masa lalu,
tak lebih dari itu, meskipun begitu, saya telah lupa sebagian besar dari
isinya, yang saya ingat hanya doktrin keterjajahan Indonesia oleh Belanda
selama 350 tahun lamanya. Satu lagi, bapak guru waktu itu begitu
mengagung-agungkan kebudayaan Jepang dengan teknologinya, saya tidak tahu apa
itu termasuk dalam pokok pembahasan belajar sejarah atau mungkin ingin memberi
motivasi kepada anak diidiknya.
Belajar
sejarah tapi tak diberi paham urgensinya, mengapa harus belajar sejarah, apa
pentingnya untuk masa yang akan datang dan apa hikmah yang bisa diambil dari
sejarah tersebut, alhasil, kelas sejarah itu seperti kelas dongeng, yang bisa
mengantarkan tidur bagi para pendengarnya.
Babak kedua
saya dalam belajar sejarah adalah ketika menjadi mahasiswa dan aktitf di salah
satu organisasi ekstra kampus, pun ketika itu belum begitu suka dan paham
sejarah, tapi ruang-ruang diskusi syarat akan pembelajaran sejarah, mulai dari
sejarah kepemudaan, sejarah masuknya islam di Nusantara, sejarah organisasi
pergerakan islam di Indonesia, sejarah kejayaan islam, hingga sejarah runtuhnya
kekhalifahan islam. Tapi begi saya yang terpenting adalah : paradigma saya tentang
sejarah yang sedikit banyaknya telah berubah, yang membuat saya lebih antusias membaca,
membeli dan mencermati literatur tentang sejarah.
Belajar
sejarah meberikan spirit, membentuk optimisme, pemebalajaran tentang
masa lalu untuk masa depan yang lebih baik. Kita tak perlu mengalami sejarah,
dengan mempelajari sejarah setidaknya kita mencoba untuk tidak terjembab ke
dalam lubang yang sama. Membaca dan memperlajari sejarah adalah salah satu
bentuk penghargaan bagi para founding Fathers Negara Indonesia. Salah
satu kata-kata yang tak asing bagi kita dari proklamator Negara Indonesia, Bung
Karno : “JAS MERAH, jangan sekali kali meninggalkan sejarah”.
Meskipun
demikian, kita perlu cermat dalam membaca dan mempelajari sejarah, karena
sejarah syarat akan subjektifitas penulis dan penggiringan opini, sehingga kita
perlu membaca lebih dari satu referensi sejarah agar memperkaya sudut pandang.
Sejarawan Ahmad
Mansur Surya Negara dalam pengantar bukunya yang berjudul Api Sejarah menyatakan
:
“Generasi
Muda Islam dewasa ini terhinggapi rasa herolessness merasa tiada memiliki
pahlawannya. Dampak dari sistem penulisan pejajaran Sejarah indonesia ataupun
Museum dan Monumen Nasional, dituliskanatau disajikan bertolak dari dasar
pemikiran deislamisasi. Peran Ulama dan Santri dalam bela negara bangsa dan
agama dipinggirkan dan ditiadakan. Digantikan pelaku sejarahnya oleh yang lain
yang realitas sejarah di zamannya menolak bersama Ulama dan Santri membangun
kesatuan dan persatuan nasional melawan penjajah”.
“Selain
deislamisasi sistem penulisan sejarah Indonesia di zaman Orde Lama dan Orde
Baru, yang lebih mengutamakan Hiduisasi dan Buddhaisasi berdampak buku sejarah
Indonesia untuk SD, SMP dan SMA, hampir 95 persen berisikan Sejarah Hindu dan
Budha walaupun realitas penganut hanya 2,5 persen dari penduduk Indonesia.
Apalagi penyajian Museum sejaraH, tidak terlihat lagi sebagai museum Sejarah
Indonesia dari mana islam sebagai mayoritasnya”.
Sejarah
memang sesuatu yang telah berlalu, tetapi jangan pula tak adil dalam
penulisanya. Apalagi sejarah ini akan dibaca oleh gerenasi selanjutnya, yang
menjadikan sejarah sebagai salah satu pembelajaran untuk membagun peradaban di
masa yang akan datang, dalam Al-quran pun disabdakan “.....Perhatikanlah apanyang telah diperbuatnya,
untuk hari esok" (Q.S Al-Hasyr : 18)
Sejarah juga
banyak terdapat dalam Al-quran, secara garis besar, Al-quran memuat tiga hal:
akidah, syaariah (ibadan dan mu’amalah), akhlak, dan kisah-kisah lampau
(sejarah), berita-berita yang akan datang dan pengetahuan-pengetahuan Ilahi
penting lainnya. Dan, dari keseluruhan surat Al-quran, maka ada 35 surah yang
memuat kisah sejarah, jumlah ayatnya sekitar 1600 ayat dari keseluruhan ayat
Al-quran yang berjumlah 6342 ayat.
Lantas,
sudah sejauh manakah kita mempelajari sejarah? Tidak ada kata terlambat untuk
memulai. (Ahmad Nuril)

Comments
Post a Comment