Obrolan Mahasiswa Masa Kini

Ahmad Nuril Anwar Santosa
(Catatan kecil minim referensi dan nasehat diri)

    Masih begitu lekat dalam fikiran ketika orientasi pengenalan kampus, salah satu materi yang disampaikan oleh narasumber yaitu terkait dengan "pergerakan mahasiswa" yang memaparkan fungsi mahasiswa adalah sebagai social control, iron stock dan sebagai agen of change.
Atmosfer ruangan yang penuh dengan ratusan mahasiswa seketika berubah, narasumber berorasi layaknya ingin menyampaikan sesuatu hal yang besar dan teramat penting, detak jantung mahasiswa dalam ruangan berpacu lebih cepat serta membakar semangat-semangat darah muda.

    Lupakan sejenak nostalgia orientasi mahasiswa baru. Seperti biasanya dikala jenuh melanda, menikmati secangkir kopi menjadi aleternatif solusi, hanya sendiri. Disekitar banyak mahasiswa lainya yang mungkin sama dengan apa yang kurasakan, namum ada hal yang sedikit menggelitik ketika mendengar obrolan mereka, jika bukan masalah kegalauan degan wanita, tetang permainan mobile masa kini, atau obrolan-obrolan kurang produktif lainya. Bukan sengaja mendengar namun intonasi suara yang sedikit keras rasanya tak mungkin untuk tidak mendengarkan.

    Bukan sekali atau dua kali saja menemui hal tersebut, di beberapa tempat seperti disekitar kampus juga melihat hal seperti itu. Sesekali ada mahasiswa yang tergabung dalam organisasi kampus atau pergerakan melakukan diskusi-diskusi kultural yang mebahas terkait organisasi kampus, kebijakan kampus atau isu isu sosial kekinian, namun nyatanya tak banyak.

    Sesekali aku mengerenyitkan dahi sembari berfikir mengapa terjadi demikian, sepertinya banyak yang merasa bahwa Indonesia sedang baik-baik saja, namun nyatanya tidak demikian, ketimpangan sosial tejadi dimana-mana. Berdasarkan data dari lembaga keuangan Swiss, Credit Suisse, 1 persen orang terkaya di Indonesia menguasai 49,3 kekayaan nasional, belum lagi masalah pendidilkan, banyak anak usia sekalah tak mengeyam pendidikan, kesehatan di berbagai daerah menjadi kebutuhan tersier, impor bahan pangan yang tergolong tinggi, sosial budaya yang terkikis budaya luar serta IPTEK yang tertinggal jauh dari negara-negara lain.

    Rasanya perlu sebuah stimulus agar pemuda peka dengan dengan realita dan permasalah sosial yang ada, sehingga ketika sudah terbiasa melihat permasalahan menjadi tersadarkan bahwa Indonesia sedang tak baik-baik saja, kemudian ada upaya untuk memikirkan solusi, menjadi sebenar benarnya agen perubahan, menjadi sebenar benarnya kontrol sosial dan menjadi sebenar benanya generasi penerus bangsa yang meneruskan cita-cita dan harapan founding fathers kita yang dulu pernah mengorbankan jiwa, raga, darah, keringat dan air mata untuk satu kata yaitu "Merdeka", merdeka dari penjajahan kolonial, merdeka secara politik, ekonomi dan pikiran.

Ditulis di Rumah Peradaban, Griya Kencana Permai Blok G VI-21, Sedayu, Bantul, Yogyakarta.
Pukul 00.46 WIB

Comments

Popular posts from this blog

Cerpen "Sepeda Ontel Penuh Hikmah"

SAWIT AMBYAR