PERTANYAAN SEORANG TEMAN – Teori Perkembangan Anak Ditinjau Dari Masa Kecil Rasulullah ﷺ
Beberapa hari yang lalu seorang teman mengirimkan pesan
singkat kepada saya, teman kampus, kebetulan pernah bekerja dalam
projek mahasiswa kala itu. Saya heran kenapa dia menanyakan hal
itu kepada saya, padahal bukan keahlian saya untuk menjawab pertanyan semacam
itu. Mungkin dia punya alasan mengapa saya ditanya perihal itu, dan saya jawab
sesuai pengamatan dengan sedikit literalur yang pernah saya baca.
Pertanyaan yang masuk melalaui pesan singkat WhatsApp itu
awalnya menjelaskan tiga teori tentang perkembangan anak dengan tokoh yang
berbeda; Plato, John Locke dan Jean Jacques Rousseau, mereka adalah filsuf,
bagi orang yang pernah mencicipi bangku kuliah di Fakultas psikologi mungkin
sudah tak asing, tapi tidak bagi saya. Lebih lengkapnya seperti ini :
“Ada tiga tokoh yang merumuskan teori perkembangan anak,
mereka punya pandangannya sendiri-sendiri. Pandangan Plato menjelaskan bahwa
bakat anak ditentukan oleh keturunan dan lingkungan dan dapat dikembangkan melalui
pendidikan dan pengasuhan. Plato berpendapat menurutnya anak adalah miniatur
orang dewasa. Anggapannya bahwa semua keterampilan, kemampuan dan pengetahuan
yang tampil dikemudian hari setelah dewasa merupakan bawaan sejak lahir.
Pendidikan tidak lain hanyalah upaya untuk menarik potensi itu keluar, namun
tidak menambahkan sesuatu yang baru.”
“Pandangan John Locke mengemukakan bahwa pengalaman dan
pendidikan merupakan faktor yang paling menentukan dalam perkembangan anak. Ia
tidak mengakui adanya kemampuan bawaan yang dikemukakan oleh Plato. Menurut
Locke, isi kejiwaan anak ketka dilahirkan ibarat secarik kertas yang kosong,
dimana bentuk dan corak kertas tersebut nantinya sangat ditentukan oleh
bagaimana cara kertas itu ditulis. Istilahnya adalah ”tabula rasa”.”
“Kemudian pandangan John Locke ditentang oleh Rousseau, ia
menolak bayi adalah makhluk yang pasif, yang perkembangannya ditentukan oleh
pengalaman. Ia juga menolak anggapan bahwa anak merupakan orang dewasa yang
tidak lengkap memperoleh pengetahuan melalui cara berfikir orang dewasa.
Sebaliknya, ia beranggapan bahwa sejak lahir anak adalah makhluk aktif, dan
suka bereksplorasi. Oleh sebab itu, anak harus dibiarkan untuk memperoleh
pengetahuan dengan caranya sendiri melalui interaksinya dengan lingkungan.
Tugas orangtua dan pendidik dalam hal ini hanya menciptakan kondisi sedemikian
rupa, sehingga kemungkinan perkembangan yang telah diatur olah alam tersebut
berjalan secara spontan, tanpa dirintangi oleh campur tangan orang dewasa.”
“Pertanyaannya, menurutmu dari tiga tokoh diatas mana
teori yang paling bisa dinalar?, walapun
kamu bukan jurusan psikologi, mungkin kamu punya pandangan yang lain.”
Pertanyaan yang cukup berat, pagi itu saya meminta jeda waktu
untuk sedikit berfikir tetang bagaimana pandangan saya. Beberapa jam kemudian
saya jawab pertanyaan itu.
Saya sampaikan jika jawaban ini hanya berdasar apa apa yang
sudah pernah saya baca, tentunya dengan sedikit mengambil hikmah dari Sirah
Nabawiyah, bagaimaan Rasulullah tumbuh dan berkembang ketika masa kanak
kanaknya, karena saya suka menghubungkan apapun dengan bagaimana kehidupan
Baginda Nabi. Saya sampaikan juga bahwa opini ini perlu dikaji lebih dalam
lagi.
Saya awalai jawaban dengan hasil riset dari University of
Washington, bahwasanya perempeuan cendrung mewarisi gen kepada anaknya yang
terbentuk dari kromosom X. Perempuan memiliki dua kromosom X, sedangkan
laki-laki hanya memiliki satu kromosom X. Tetapi genetik tidak sepenuhnya
mempengaruhi kecerdasan anak, faktor genetik menyumbang 40-60 persen. Sisanya
adalah faktor lingkungan, pola asuh
orang tua, dengan siapa anak itu bergaul, makanan apa yang dimakan, dan
bagaimana kualitas pendidikan anak. Artinya, hal ini senada dengan teori Plato,
jika kecerdasan dan bakat anak ditentukan oleh keturunan dan lingkungan.
Teori tersebut juga sejalan dengan studi literatur sirah
nabawiyah. Nabi Muhammad SAW memiliki nasab yang baik, bukan kaleng-kaleng kata
orang sekarang, beliau dilahirkan dari keluarga atau klan Bani Hasyim, keluarga
terpandang di Makkah. Sedangkan ibunya Siti Aminah binti Wahab adalah putri
dari pemuka Bani Zuhrah, salah satu cabang suku Quraisy yang memiliki kedudukan
tinggi dan nasab mulia. Dengan begitu, berkumpullah dua nasab mulia dari
keturunan Bani Hasyim, dengan pemukanya Abdul Mutalib, dengan keturunan Bani
Zuhrah, dengan pemukannya Wahab bin Abdu Manaf.
Jika kita baca sirah nabawiyah, dalam tradisi Arab dahulu,
bayi bayi yang lahir akan dicarikan ibu susuan, sebagai langkah untuk
menjauhkan anak dari penyakit dan lingkingan yang tidak baik, karena Makkah
berada di kota pusat keramaian yang notabenya adalah daerah yang sudah maju
ketika itu.
Datanglah orang orang dari Bani Saad mencari anak untuk
disusui di Makkah. Bani saat memiliki memiliki perkampungan yang masih asri,
terdapat banyak lembah dan pegunungan, bahasa arabnya masih murni, jadi sangat
baik untuk perkembangan fisik dan kecerdasan bahasa Rasulullah SAW.
Adalah Halimah bin Abu Dzu’aib, perempuan dari Bani Saad yang
menyusui Nabi Muhammad SAW, awalnya hanya dua tahun, tetapi Ibunda Halimah
meminta kepada Ibunda Aminah untuk memperpanjang masa pengasuhan, karena
merasakan keberkahan ketika megasuh beliau, akhirnya diizinkan, dalam literatur
beliau diasuh hingga usia 4 tahun, dikembalikan kepada Ibunda Aminah setelah peristiwa
pembelahan dada Nabi Muhammad oleh malaikat Jibril, karena Halimah takut
terjadi sesuatu kepada Nabi Muhammad kecil, setelah itu diasuh olah ibundanya
Aminah hingga usia 6 tahun.
Nabi Muhammad dalam pengasuhan Ibunda Halimah di perkampungan
Bani Saad di usia Golden Age. Golden Age adalah usia dimana periode emas
perkembangan otak anak, sejak usia 0-5 tahun.
jadi menurut saya, sebagai orang awam tentang teori teori
perkembangan anak yang dicetuskan oleh para filsuf kenamaan itu, tidak ada
teori yang sangat bertolak belakang, tetap memiliki korelasi dan saling
melengkapi. Lagipula ilmu sosial sangat dinamis, sesuai dengan perkembangan
zaman dan dimana argumen-argumen itu muncul.
Begitu pandangan sederhana saya terhadap apa yang teman saya
tanyakan, sekali lagi, ini hanya opini, bisa saja salah, lagipula tulisan ini
masih jauh dari kata “ilmiah”. Yang bertanya ini alumni mahasiswa psikologi,
sarjana psikologi, saya yakin lebih mengerti, apalah saya yang hanya seorang
yang pernah belajar di fakultas Ekonomi yang kemudian mencampuri urusan nenek
moyang ahli filsafat barat kenamaan.
Ahmad Nuril.
Mantaap.... Masih ada typo2..... Hhe
ReplyDelete