Cerpen "Sepeda Ontel Penuh Hikmah"


Hai sobat, kali ini saya mencoba sharing cerpen yang sudah lama tersimpan dan tak pernah terpublikasikan, mungkin blog inilah tempat pelampiasan segalanya. Singkat cerita ada event untuk membuat cerita dari sebuah gambar di jejaring sosial facebook dan terciptalah cerpen yang cetar membahana ini, hehe. Tanpa basa basi yukk cekidot

sumber : https://sepeda.files.wordpress.com
      Pagi itu sang mentari mulai menampakkan wujudnya, angin sepoi -sepoi menerpa wajah Ihsan yang sedang menggembala sepasang kambing putih milik kakeknya di tepi sawah dekat gubuk beratapkan daun ilalang.
     Seperti biasanya Ihsan selalu menemani kakeknya sebagai buruh tani,  kali kakeknya sedang memanen padi yang sudah menguning milik pak Anuar. Ya, pak Anuar memang selalu dermawan kepada siapapun, karena kebaikannya warga Kampong Kidul sangat mengenal beliau.
     Begitulah keseharian Ihsan, ketika teman temanya menimba ilmu di sekolah ia mengembala kambing milik kakenya, jangankan untuk sekolah, bisa makan nasi putih  satu kali dalam sehari saja Ihsan dan kekeknya sudah sangat bersukur. Begitulah kehidupan, tetapi Kekurangan ihsan tidak membuat ia patah semangat justru ia semakin termotivasi untuk menjadi orang yang dermawan seperti pak Anuar.
     “Ihsan” kakeknya memanggil dari kejauhan.
     “Iya kek” jawab ihsan dan segera berlari dari gubuk menuju kakeknya yang mengunakan caping (topi kuncup)
     “Tolong ambilkan kakek minum , kakek haus sekali” dengan nada lelah sembari mengelap peluh yang mengucur deras di dahi keriput sang kakek
     “Iya kek, Ihsan akan mengambinya” segera Ihsan mengambil sebotol air putih yang ada digubuk dan memberikan kepada kakeknya.
Ketika ihsan sedang duduk  termenung , datanglah Neneng mengunakan sepeda ontel. Neneng adalah putri semata wayang pak Bejo, Berbeda degan pak anuar, pak bejo nerupakan rentenir kelas kakap, sekali wargan terjerat bisa langsung melarat, karena bunga yang diberikan sangat besar, tetapi neneng sangat baik dan ramah kepada siapapun terutama ihsan.
     “ihsan, ihsan, ihsan” Neneng yang bersembunyi di balik pohon kelapa menjahili ihsan yang sedang termenung. Namun karena  Ihsan sudah sangat terhanyut dalam lamunannya sehingga tidak mendengar suara neneng.
Karena ihsan tidak memberikan reaksi, akhirnya neneng mendatangi ihsan dan
      “Door”  ia mengaetkan Ihsan sehingga lamunannya buyar
     “Astagfirullah neng kamu hampir membuat jantungku copot” celotehan Ihsan kepada Neneng.
    “maaf  maaf San, lagian kamu aku panggil ngak noleh, kamu melamun apa?” Tanya neneng kepada ihsan
     “umm, enggak kok, aku Cuma….”
     “kamu mikirin aku ya, hayo ….ngaku ngaku hehe” memotong perkataan Ihsan dan mencoba meggodanya
    “hus, sembarangan kalo ngomong” ihsam membantah neneng.
   “hehehe, maaf maaf aku kan Cuma bercanda. Yasudah bagaimana jika kita main sepeda, kamu yang boncengin aku” Neneng mengajak ihsan
     “kamu kan tau neng aku belum terlalu bisa bersepeda, apalagi ngeboncengin kamu” ihsan mencoba menolak.
     “sudah sudah kita coba dulu, daripada kamu ngelamum nanti kesambet gederuwo kamu”
    “Yasudah, karena kamu yang mengajak aku mau deh” Ihsan tersenyum kepada Neneng
Ihsan memang sudah lama ingin memiliki sebuah sepeda,  namun ia tau untuk saat ini belum bisa ia membeli sebuah sepeda.
Roda sepeda mulai berputar, ihsan membonceng neneng di bangku belakang sepeda ontel yang sudah tampak usang.
     “Brakkk” terdengar suara di jalan setapak menuju balai desa kampong kidul. Ya, Ihsan dan neneng terjatuh karena menabrak pohon pisang.
     “Ihsan, ihsan tolong aku tolong” neneng memanggil sambil menangis
Segera ihsan menolong neneng yang kakinya terjepit sepedanya sendiri.
     “kamu ngak papa neng?” Tanya ihsan yang mengkhawatirkan neneng
    “kaki ku berdarah”
Ihsan segera merabikkan baju yang ia kenakan dan segera membalut luka di kaki kanan neneng.
Ihsan termenung, ia memandang sebuah sepeda yang roda depanya tampak rusak karena menabrak pohon pisang, ia takut dimarahi ayah neneng.
“Maafkan aku neng, gara gara aku kamu terluka, dan sepedahmu jadi rusak” Ihsan meminta maaf kepada Neneng.
     “Seharusnya aku yang mengatakan itu San, karena aku yang mengajakmu untuk bermain sepeda”
Kemudian mereka pulang, ihsan segera mengambil kambing yang taidinya ia ikat di dekat gubuk dan segera pulang. Rasa khawatir menyelimuti ihsan dalam perjalalan pulang karena memkirkan sepeda neneng yang rusak.
Rasa khawatir masih tak bisa lenyap dalam benak ihsan, ia takut dimarahi oleh ayah neneng, dan kakeknya. Dan benar apa yang iya takutkan
      “Ihsan ihsan ihsan, keluarlah kamu, keluarlah!!” ayah neneng memanggil di depan rumah kakenya.
Kemudiain kakek ihsan keluar karena terkejut
    “Nuhun sewu, ada apa bapak memanggil Ihsan ” terheran heran karena tidak tau permasalahannya
“bapak lihat sepeda ini dan coba bapak lihat kaki anak saya!!” menunjuk sepeda rodanya rusak 
“nyuwon sewu maleh, kulo mboten ngertos nopo nopo pak” (maaf, saya tidak tau apa apa pak) kakek ihsan semakin bingung
Kemudian ihsan dipanggil dan menjelaskan semua yang terjadi kepada kakenya sambil menangis
“Kamu harus ganti sepeda ini!!” kata pak Bejo
“kulo mboten duwe nopo nopo pak” (saya tidak punya apa apa pak) ungkap kakek ihsan dengan nada memelas
Pak bejo melihat dua ekor kambing yang berada di kandang milik kakek ihsan.
“heem, itu apa? bagaimana jika ditukar dengan kambing itu dan sepeda ini boleh kalian ambil” kata pak bejo
Karena tidak ada pilihan lain kakek ihsan memberikan satu ekor kambing jantan sang selalu disayangi ihsan.
“yasudah pak , mboten nopo nopo” sepertinya kakek ihsan sedih, tetapi ia tetap tegar karena ia yakin semua itu sudah takdir tuhan yang maha kuasa. Ihsan sekarang sudah memiliki sepeda sendiri walaupun bukan baru, dan sedikit rusak karena kejadian bersama neneng.
Kambing kakek ihsan sekarang hanya satu ekor, tetapi tidak disangka sangka esok harinya kambing betina tersebut melahirkan tiga anak kambing yang besar besar, betapa terkejutnya Ihsan dan Kakeknya melihatnya. Mungkin itu pemberian Allah yang maha kuasa, kerena keikhlasan kakek ihsan atas segala sesuatu yang terjadi.

Comments