Bukan Sekolah Robot


Sabtu pagi Anda sedang menyaksikan talk show di stasiun TV kesayangan Anda, tiba tiba layar TV menjadi buram. Apa yg akan Anda lakukan? Menggebrak TV atau bongkar TV? Kemungkinan kita akan memilih opsi pertama, ya, menggebrak TV. Bisa jadi karena emosi atau hasil dari apa yg pernah kita lihat  kemudian mencontoh. Sekali berhasil, kemudian terulang lagi, Anda gerbrak lagi, dan lagi. lama lama remuk.

Apakah teknisi TV akan melakukan hal yg sama? Menggebrak TV? tentu tidak, hal yg pertama dilakukan adalah mendiagnosa permasalahan, kemudian bongkar. Profesional.

Setelah "menggebrak" TV apa lagi?

Tentang pengalaman, di sekolah (sekitar 12 th yg lampau) seorang murid sekolah dasar diminta mengerjakan soal perhitungan di depan kelas, jawabanya salah, habis sudah murid itu "digebrak" oleh gurunya karena dianggap tak pandai menyelesaikan persoalan, padahal sudah diajarkan pekan lalu.

Lantas bagaimana guru yg "mengebrak" muridnya karena belum mampu menyelesaikan persoalan yg diberikan?

Guru yg sebenarnya saya rasa tidak demikian. Suatu hari, di kelas, sekelompok siswa diberikan sebuah  pertanyaan oleh guru, siswa diminta untuk menjawab, seorang murid mengacungkan tangan dan berargumen, rupanya jawaban murid itu tidak tepat, namun tak lantas kemudian sang guru "menggebrak", justru sebaliknya, murid diberikan apresiasi karena berani berargumen.

"Guru-guru di Amerika membiasakan kata-kata good job, well done, excellent, perfect, awesome, great, wonderfull, keep it up, dll, baik secara lisan ataupun tulisan sebagai bentuk apresiasi kepada muridnya". Masykur dalam situs Kompasiana.com.

Dalam buku learning metamorphosis, hebat gurunya dasyhat muridnya karya H.D Iriyanto diungkapkan, banyak guru yg tak paham bagainana otak murid bekerja, mereka hanya menyapaikan materi, memberi tugas, dan menilai berdasarkan angka-angka, sehingga jadilah "sekolah robot".

Mengembangkan potensi siswa sama artinya dengan mendidik secara utuh, yaitu mengembangkan potensi kognitif, afektif dan psikomotorik. Konsekuensinya ketiga aspek tersebut harus diperhatikan secara proporsional, agar tumbuh dam berkembang menjadi manusia yg seutuhnya dengan segala potensinya.

Comments

Popular posts from this blog

Cerpen "Sepeda Ontel Penuh Hikmah"

Obrolan Mahasiswa Masa Kini

SAWIT AMBYAR