"Mengapa Aku Mencintai KAMMI?"
Ahmad Nuril Anwar Santosa
Bismillahirrohmanirrohim
Sekitar tiga tahun lalu aku
memutuskaan pergi meninggalkan kampung halaman kemudian kuliah di salah satu
perguruan tinggi swata di DIY .Ya, Universitas Mercu Buana Yogyakarta, kampus
yang tak setenar Gajah Mada atau kampus besar lainya. Namun di tempat inilah
aku banyak belajar, bukan hanya hal akademik, namum lebih dari itu.
Pernah menjadi bagian dari ROHIS (Rohani
Islam) di Sekolah menengah kejuruan dulu membuat aku membulatkan tekad untuk
mencari organisasi yang sejenis di kampus, awalnya yang kutemui adalah HMI
(Himpunan Mahasiswa Islam) mengenal HMI ketika mengikuti MAPERCA (Masa
Perkenalan Calon Anggota) bersama rekan kuliahku, namun tampaknya aku belum
begitu menjiwai dalam HMI sehingga aku memutuskan untuk tidak mengikuti LK 1
(Latihan Kader 1). Tak lama setelah MAPERCA, aku menemui pesan singkat ajakan untuk
kegiatan Bakti sosial yang diselenggarakan oleh KAMMI, jujur aku belum begitu
mengerti apa itu KAMMI. Kegiatan Bakti Sosial yang diseleggarakan bersama teman
teman KAMMI UMBY, UPN, Amikom dan Instiper membuat aku selangkah lebih dekat mengenal KAMMI, aku bertemu dengan Mba Tantri,
Mas Fahri, Mas Ma’ruf , Mas Rahman dan rekan rekan lainya, bagiku mereka adalah
orang orang yang hebat yang aku temui saat masa masa awal di perantauan.
![]() |
| Bersama Anak-anak Purworejo ketika Bakti Sosial |
![]() |
| Panitia Baksos KAMMI UPN, AMIKOM, INSTIPER, UMBY |
Setelah kegiatan bakti sosial aku
diajak untuk mengikuti diskusi diskusi yang diselenggarakan oleh KAMMI. Timur
Rektorat, bagiku adalah temapt yang
bersejarah, aku disana belajar banyak hal bersama KAMMI, meskipun aku belum mengikuti DM 1 mereka tetap
terbuka untuk melakukan diskusi diskusi bersama mahasiswa baru. Ketika mengikuti
diskusi bersama KAMMI jujur aku belum begitu mengerti banyak hal, masih polos
seperti mahasiswa baru pada umumnya, mugkin juga seperti kalian, mereka membahas
tentang Negara, Ekonomi, Isu isu kekinian dan meteri materi keislaman yang
membuat aku tampak kebingungan.
Satu bulan kemudian aku mengikuti
kegiatan DM 1 (Dauroh Marhalah 1) KAMMI bersama Rekan rekan KAMMI UNY, karena KAMMI
Mercu Buana belum mengadakan DM1 secara mendiri, selama 3 hari dua malam aku
mengikuti serangkaian kegiatan dan beberapa sesi materi, akhirnya aku resmi
menjadi anggota KAMMI, aku menjadi begian dari KAMMI dengan segala kelebihan
dan kekurangannya.
Pada masa itu anggota KAMMI tidak
begitu banyak, berbeda dengan LDK JAN UKMI yang memiliki anggota yang cukup banyak,
aku juga bagian dari JAN UKMI, ikut andil dan terlibat pada kegiatannya,
tantangan mengikuti dua organisasi membuat aku harus pandai pandai mengatur
waktu, kapan aku bersama KAMMI dan kapan aku bersama JAN UKMI, aku belajar dari
keduanya untuk bagaimana saling melengkalpi, dulu aku bingung apa perbedaan
dari keduannya, namun seiring berjalannya waktu aku mulai mengerti.
Satu tahun bersama KAMMI aku diberi
amanah yang cukup besar, menjadi ketua umum KAMMI UMBY menggantikan Mba Tantri,
Harusnya belum waktunya, namun aku yakin ketika amanah datang menghampiri itu bukan
tidak disengaja, Allah memiliki rencana terbaik untuk hamba-hambanya. Aku terus
belajar, bagaimana menjadi seorang pemimpin,
bertemu dengan rekan rekan seperjuangan yang memiliki karakter yang berbeda
beda, bertemu dengan teman seperjuangan di luar kampus yang senantiasa memberikan
semangat, arahan dan motivasi agar terus belajar dan bergerak di KAMMI.
![]() |
| Serah terima jabatan Ketua KAMMI th 2016 |
Setahun bersama KAMMI aku mulai
mengerti banyak hal, salah satunya adalah mengapa aku harus megerti isu isu kenegaraan,
isu sosial, Isu ekonomi bahkan isu politik, yang mungin menjadi obrolan yang sensitive
di telinga sebagian orang. Manusia
diciptakan di muka bumi sebagai khalifah di muka bumi ( QS Al- Baqarah :30) bukan
hanya untuk kepentingan diri sendiri, namun lebih dari itu, sebagai makhluk
yang mengemban status “Khalifah” atau pemimpin tentunya membuat kita harus belajar
dan mengerti banyak hal. Islam yang nyatatanya adalah agama yang Kaffah (QS
Al-Baqarah :208) yang mengatur seluruh aspek kehidupan dari mulai kita bangun
tidur hingga kita tidur kembali, misalnya ketika kita bersin, masuk kamar kecil,
makan dan lain lain, islam telah mengatur segalanya, lantas sangat tidak
mungkin bisa urusan bersosial, berekonomi dan bernegara islam tidak
mengaturnya. Itulah yang menjadi landasan mengapa KAMMI mendidik kader kadernya
untuk tidak belajar masalah ruhyah semata.
Keberadaan
kita dinantikan oleh umat islam, tidaklah jarang kita melihat di media, bagaiman penindasan terhadap saudara kita yang seiman? Lihatlah palestina,
Rohingya, Umat muslim di Cina (Uighur) yang tertindas keberadaanya. Begitu juga dengan
umaat Islam di Indonesia, jangan sampai menjadi umat yang tertindas di negeri
sendiri, Islam harus mandiri dalam bidang ekonomi, sosial, dan tentunya politik
untuk menjemput apa yang telah dijanjikan oleh Allah swt yaitu kejayaan Islam.
Hidup
adalah tentang pilihan, dan aku memilih KAMMI menjadi bagian dari sejarah
hidupku, tentunya tanpa mengabaikan amanah-amanah yang lain. Tentu kalian
sudah memiliki pilihan bukan?



Masya Allah, Barakallah...
ReplyDelete